LIPUTAN WISATAWAN Wisatawan perlu bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri saat berwisata. Tanggungjawab terhadap diri sendiri ini dapat dilihat dari kesiapan yang matang dalam menjaga keamanan diri sendiri, dan memastikan kelayakan perbekalan yang dibawa. Kemudian, disiplin dalam memilih jasa pelayanan pariwisata yang telah memiliki sertifikat, izin resmi, serta lisensi khusus.
“Selain civitas akademika, pelaku usaha dan PHRI memegang peranan penting dalam menjaga keselamatan wisata. Tidak kalah penting, kita sendiri sebagai wisatawan dan calon wisatawan juga memiliki tanggung jawab yang sama.”
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini Mohamad Paham, dalam opening remarks Kuliah Umum bertajuk โKeselamatan Wisataโ di Politeknik Pariwisata Makassar.
Menurutnya, wisatawan masa kini tidak lagi dapat bersikap pasif. Realisasi tanggungjawab terhadap diri sendiri ini dinilai sebagai cara paling efektif untuk meminimalisasi sekaligus memitigasi risiko kecelakaan saat berwisata. Khususnya pada sektor transportasi pariwisata yang kerap menjadi perhatian publik.
“Keselamatan bukan sekadar pelengkap dalam aktivitas wisata, melainkan prasyarat mutlak untuk mewujudkan destinasi yang tangguh, berdaya saing, dan dipercaya wisatawan,โ. Ia menambahkan, keselamatan wisata dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari kondisi cuaca dan karakteristik alam, hingga aspek teknis operasional serta faktor manusia atau human error.
Namun demikian, lanjutnya, standar keselamatan yang kuat hanya dapat terwujud melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan. Sebagaimana yang diketahui, kabar kecelakaan yang dialami oleh wisatawan saat berwisata bukanlah permasalahan kemaren sore di Indonesia. Sejumlah insiden kerap terjadi, bahkan ada yang sampai menelan korban jiwa.
Seperti yang terjadi beberapa pekan belakangan, ada seorang pendaki usia 18 tahun Gunung Slamet yang ditemukan meninggal setelah hilang selama 17 hari. Kemudian, ada pula insiden kapal wisata yang tenggelam di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada akhir 2025 lalu. Insiden ini menelan korban jiwa, yaitu pelatih Valencia B Fernando Martin Carreras bersama dua anaknya. Sementara satu anaknya hilang dan belum ditemukan.
Masih insiden kapal tenggelam, kasus selanjutnya yang pernah terjadi yaitu KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali.


Leave a Reply